Gue termasuk orang yang gampang tergoda beli perangkat "receh" di marketplace. Namanya juga sering bepergian, jadi alasan buat beli aksesoris kecil itu selalu ada. Masalahnya, dulu gue cuma beli, pakai seminggu, lalu perangkatnya nganggur di laci. Bulan lalu gue memutuskan satu hal: selama 30 hari, gue cuma pakai empat perangkat yang memang sudah gue punya, dan gue catat apa yang berubah. Hasilnya di luar dugaan.
Duit yang Nggak Lagi Bocor ke Charger Baru
Ini perubahan paling kentara. Sebelumnya, tiap kali charger gue rusak atau kabelnya kusut parah, gue langsung beli yang baru. Entah di bandara, entah di minimarket dekat hotel. Harganya memang nggak besar, tapi kalau sebulan bisa dua-tiga kali, ya lumayan juga.
Selama sebulan ini gue cuma pakai satu power strip mini yang ada sakelarnya, plus satu kabel charger yang gue rawat beneran. Kabelnya gue gulung rapi pakai klip, nggak lagi dilempar ke dalam tas begitu saja. Ternyata kabel yang dirawat dengan benar itu bisa jauh lebih awet. Gue nggak beli kabel baru sama sekali bulan ini. Buat gue yang biasanya jajan kabel tiap dua minggu, ini pencapaian.
Efek sampingnya: gue jadi sadar kalau selama ini masalahnya bukan charger-nya yang jelek, tapi cara gue nyimpen dan nyoloknya yang asal-asalan. Power strip bersakelar itu juga bikin gue bisa matiin semua colokan sekaligus waktu keluar kamar hotel, jadi nggak ada adaptor yang nyala terus tanpa guna.
Koper Terasa Lebih Ringan, Padahal Isinya Sama
Perangkat kedua yang gue coba: pouch organizer kabel. Bentuknya kotak kecil, ada karet elastis di dalamnya. Dulu gue mikir ini cuma gimmick. Ternyata setelah dipakai sebulan, pouch ini yang paling ngubah cara gue packing.
Sebelumnya, kabel, adaptor, power bank, dan earphone gue campur di satu kantong koper. Hasilnya? Tiap mau nyari sesuatu, gue harus bongkar isi koper. Kabelnya kusut jadi satu, dan gue sering kesel sendiri di kamar hotel jam 11 malam cuma gara-gara mau colok HP.
Dengan pouch, semuanya ada di satu tempat dan gue tahu persis apa yang ada di dalamnya. Koper jadi lebih gampang ditutup, dan gue nggak lagi bawa kabel yang ternyata udah nggak kepakai. Waktu gue timbang, koper gue turun sekitar 300 gram. Kecil, sih. Tapi buat yang sering naik pesawat dengan bagasi kabin terbatas, tiap gram itu berarti.
Yang paling gue syukuri bukan beratnya, tapi kepala gue yang jauh lebih tenang waktu packing. Nggak ada lagi drama "charger gue di mana?" di lobi hotel.
Nggak Ada Lagi Drama Colokan di Kafe dan Bandara
Ini yang paling nggak gue sangka. Perangkat ketiga adalah extension cord pendek dengan tiga colokan — panjangnya cuma sekitar 30 cm, muat di kantong jaket. Gue bawa ini ke mana-mana selama sebulan, dan hasilnya bikin gue nggak mau traveling tanpa dia lagi.
Kamu tahu kan situasinya: kamu udah duduk nyaman di kafe, kopi udah dipesan, laptop udah dibuka, eh colokan listriknya udah dipakai orang di meja sebelah. Dulu gue biasanya pasrah, pindah meja, atau nekat kerja pakai baterai sampai mati. Sekarang gue tinggal nanya baik-baik, "Boleh nebeng colokan nggak?" sambil nyodorin extension cord. Hampir selalu dibolehin.
Di bandara juga gitu. Colokan yang biasanya rebutan jadi bisa dipakai berdua. Kadang gue malah jadi akrab sama orang sebelah gara-gara hal sesimpel ini. Sebulan pakai, gue nggak pernah lagi kehabisan baterai di tempat umum. Buat gue yang suka kerja sambil nunggu flight, ini penyelamat banget.
Satu Catatan soal Kualitas
Gue sempat beli extension cord murah yang kabelnya tipis banget, dan itu panas waktu dipakai buat laptop. Setelah itu gue ganti yang ada label daya jelas dan kabelnya lebih tebal. Buat perangkat yang nyambung ke listrik, jangan pelit. Ini bukan soal gaya-gayaan, tapi soal aman. Kamu nggak mau kan, perangkat receh bikin korsleting di kamar hotel?
Jam Tangan yang Bikin Gue Nggak Bolak-balik Cek HP
Perangkat terakhir: jam tangan digital murah. Bukan smartwatch, cuma jam biasa yang ada alarm dan tanggalnya. Kedengarannya sepele, tapi efeknya kerasa banget buat pola tidur dan jadwal gue selama traveling.
Dulu, tiap mau tahu jam berapa, gue buka HP. Dan tiap buka HP, ada notifikasi. Ada chat kerja, ada email, ada update grup. Satu cek jam berubah jadi 15 menit scrolling. Selama sebulan pakai jam tangan, gue sadar berapa banyak waktu yang dulu kebuang cuma gara-gara nggak ada jam di pergelangan tangan.
Waktu bangun pagi di hotel, gue nggak perlu meraba-raba HP di meja. Cukup lihat jam tangan. Alarm-nya juga cukup buat bangunin gue tanpa harus naruh HP di dekat bantal. Kualitas tidur gue naik, dan pagi-pagi jadi lebih tenang karena HP masih di tas.
Yang menarik, gue jadi lebih sadar waktu. Tahu kalau udah 40 menit duduk di kafe, tahu kapan harus berangkat ke bandara tanpa panik. Hal kecil yang ternyata ngubah ritme hari.
Yang Berubah Setelah Sebulan
Kalau ditarik garis, empat perangkat ini semuanya murah dan sederhana. Nggak ada yang canggih. Tapi selama sebulan, gue ngerasain tiga perubahan nyata:
- Pengeluaran lebih terkendali. Nggak ada lagi beli charger atau kabel dadakan di bandara dengan harga dua kali lipat.
- Packing lebih efisien. Semua barang listrik ada di satu pouch, koper lebih ringan, dan gue nggak bawa barang yang nggak kepakai.
- Kepala lebih tenang. Nggak ada drama colokan rebutan, nggak ada HP mati di tengah jalan, dan waktu nggak habis buat scrolling tanpa sadar.
Gue nggak bilang kamu harus beli semuanya. Tapi kalau kamu sering bepergian dan merasa tiap perjalanan selalu ada saja yang bikin repot soal listrik dan barang bawaan, coba deh mulai dari satu perangkat dulu. Kasih waktu sebulan. Jangan langsung beli empat-empatnya, nanti malah jadi barang nganggur lagi, sama kayak kebiasaan lama gue.
Yang paling gue pelajari dari eksperimen ini sederhana: kadang masalah traveling bukan kurang perangkat, tapi kebiasaan kita yang belum dirapikan. Perangkatnya cuma alat bantu. Yang berubah beneran itu cara gue mikir soal barang bawaan dan waktu.
Kalau kamu mau coba, mulai dari yang paling sering bikin kamu kesel di perjalanan. Buat gue, itu colokan. Buat kamu, bisa jadi jam tangan, bisa jadi pouch. Yang penting dicoba dulu sebulan, baru deh nilai sendiri.